KOTA YANG KERING?

Jpeg

Dalam buku For Profit and Prosperity: the Contribution made by Dutch Engineers to Public Works in Indonesia 1800-2000[i], Ravesteijn dan Kop bertutur antara lain tentang rasa heran dan penasaran para ahli teknik sipil Belanda generasi awal di Nusantara. Pasalnya, mereka merasa gagal membangun Batavia yang kering dan bersanitasi baik, dengan formula dari daratan asal untuk merekayasa kota.

Para ahli tersebut kemudian sadar bahwa curah hujan di Jawa begitu tinggi, dan alirannya membawa banyak lumpur dari pegunungan ke delta. Belum lagi malaria! Ini semua sangat berbeda dengan kondisi alam Belanda, tempat kelahiran kota kanal. Dalam penutup buku tersebut, Ravesteijn dan Kop, peneliti kawakan bidang Science, Technology and Society Studies, menuliskan bahwa pengalaman di Nusantara telah menempa ahli-ahli teknik sipil Belanda dan sekembalinya mereka ke Eropa, pengalaman lapangan ini bahkan ikut memompa pengetahuan baru dalam bidang tata air.

 https://images-na.ssl-images-amazon.com/images/I/51UpbHZ5btL._SX339_BO1,204,203,200_.jpg

Dialektika dalam Rekayasa Teknik dan Perencanaan Kota

Berangkat dari pendekatan yang defensif, yaitu menghindari air, tradisi rekayasa teknik sipil Belanda berkembang menjadi ofensif, yaitu melawan gerak alami air dengan kanal dan pompa untuk mengeringkan daratan. Ini salah satu bentuk ekspresi dari perencanaan kota moderen yang rasional, yang dituntun oleh kemajuan ilmu di Eropa kala itu. Perencanaan yang rasional dengan logika means-ends, yaitu mencari instrumen menuju solusi akhir banyak menerima kritik antara lain dari ahli antropologi James Scott (lihat bukunya Seeing Like a State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed[ii]). Scott berpendapat bahwa pendekatan ini didasari oleh bangunan pengetahuan yang monolitik, namun memisahkan pengetahuan epistemic dari pengetahuan prakmatis yang melekat pada kebudayaan dan praktik keseharian komunitas. Pengetahuan epistemic ini menjadi monopoli kaum ‘ahli’ yang elitis dan bersifat kaku serta percaya pada bentuk penerapan yang seragam.

https://i2.wp.com/i.gr-assets.com/images/S/compressed.photo.goodreads.com/books/1437197404i/20186._UY500_SS500_.jpg

Bercermin pada kegagalan pendekatan ofensif, Belanda kini gigih mempromosikan sikap hidup dengan air. Seperti di banyak negara industri maju lain, soft infrastructures seperti taman ekologis, danau dan hutan buatan serta wetlands dihadirkan kembali dalam kota untuk memberi ruang pada air dan proses ekosistem yang lebih alami. Sementara itu, banyak kota Nusantara tetap memimpikan kota ultra-moderen dengan jalanan dan sungai yang lurus, bentang alam dan pola bangunan yang seragam. ‘Kota yang kering’ adalah norma, mensyaratkan air secepat-cepatnya dialirkan ke laut. Padahal seperti di banyak negara Asia Tenggara lain, masyarakat tradisi pesisir telah lama hidup dengan air. Laju air diredam dengan empang, bantaran sungai yang hijau serta hutan bakau, sehingga ada rentang waktu untuk air mengisi lapisan tanah. Ada empang ada sumur. Ada siklus air tertutup skala kecil tanpa komodifikasi infrastruktur raksasa.

 

Di balik Banjir Jakarta: Sanitasi

Ketika banjir terjadi, volume air bertambah, tetapi berbagai kuman dan polutan juga merayap cepat ke ruang terbuka. Saat kelas menengah ribut di media sosial tentang hambatan ke tempat kerja, banyak warga kampung kota tak bisa buang air karena WC-nya tergenang. Kala banjir surut, penyakit-penyakit bawaan air pun menyerang bayi dan balita dan air bersih tidak cukup tersedia. Sayangnya, persoalan ini kerap tinggal dalam ranah domestik.

Jakarta, dengan jaringan saluran air kotor yang mencakup tujuh persen saja dari seluruh areanya, adalah ibukota dengan sistem manajemen air kotor terburuk di Asia Tenggara menurut catatan Bank Dunia. Cakupan ini pun dicapai dengan tertatih-tatih selama lebih dari 30 tahun! Hingga kini, banyak kompleks perumahan dan apartemen dibangun tanpa sistem pengolahan air kotor. Sejak tata kota moderen diperkenalkan pada zaman kolonial, peran arsitek lebih dominan daripada ahli teknik sipil air dan kesehatan masyarakat. Sampai sekarang, apa yang di atas tanah dipikirkan dan dibangun secara terpisah dari yang di bawah tanah, oleh dinas pemerintahan yang berbeda dan tidak terkoordinasi. Estetika monumental menjadi lebih penting daripada ekosistem yang sehat.

Bagi saya, reformasi manajemen banjir tidak bisa dipisahkan dari perbaikan sanitasi lingkungan pada unit yang paling kecil, yaitu rumah tangga, kelurahan, dan kecamatan. Pada unit governance inilah kebutuhan-kebutuhan infrastruktur terkait air (pengolahan air limbah, penampungan air hujan, dan penyediaan air bersih) dapat diintegrasikan dan disinergikan.

 

Menuju Kota Organik

Manajemen tata air secara menyeluruh pada Daerah Aliran Sungai (DAS) jelas perlu. Namun, perspektif penyelesaian masalah dari unit terkecil berguna untuk menjadikan pendekatan DAS lebih operasional. Berbeda dengan pendekatan pembangunan infrastruktur skala besar yang membutuhkan manajemen terpusat, pendekatan unit terkecil yang saya namakan organik memberikan ruang bagi warga untuk lebih aktif dalam perencanaan dan pembangunan ruang. Ini bukan berarti meninggalkan peran institusi negara, tetapi justru memperkuat pilar tata kelola pada skala yang paling kecil. Sektor informal telah mewarnai karakter urban Nusantara melalui penyediaan berbagai jasa, hunian, air bersih dan pengumpulan limbah. Ini adalah potensi kemandirian sehingga perlu dilibatkan dalam proses pembangunan. Warga yang aktif adalah warga yang resilien terhadap bencana. Karakter kota pun tidak menjadi ‘kering’ dengan sistem manajemen yang tunggal. Ada keragaman cara memecahkan masalah, keragaman bentuk solusi teknik yang menghasilkan keragaman lanskap dan budaya.

[i] 2008, terbit perdana 2004 dalam Bahasa Belanda

[ii] 1998

Advertisements