Apa itu nge-PAP

Nge-PAP yuk!. Nge-PAP berarti hadir dalam Pena Akhir Pekan. PAP berawal dari kejenuhan saya, yang ternyata bukan hanya saya yang merasa demikian, yang tengah mengerjakan penelitian untuk studi doktoral. Saya harus banyak membaca konsep ruang sosial, dan ternyata menarik! Bacaan-bacaan tentang kota yang ditulis, misalnya, Harvey, Lefebvre, Simmel, Foucault, Swyngedouw, Gandy, begitu kaya. Nah, bagaimana caranya menjadikan karya-karya mereka konsumsi populer? Nge-PAP barangkali jawabannya. Mengapa perlu mempopulerkan bacaaan-bacaan tersebut? Sederhananya untuk nge-tes pemahaman saya sendiri.

Konsep ruang begitu beragam lahir dalam ilmu sosial. Mengapa? Karena ilmu sosial mempelajari relasi sosial. Antara saya dengan Anda yang sedang membaca halaman ini. Antara Anda dengan warga di sekitar Anda. Antara saya, Anda dan negara ini. Antara kita dengan botol air mineral. Antara produsen air mineral dengan hutan lahan gambut. Antara semua yang sudah saya sebut dengan perubahannya dari waktu ke waktu. Relasi sosial yang kompleks ini terjadi dalam ruang sosial, yang tentunya berbanyak dimensi. Ruang sosial ini termanifestasikan sebagian dalam ruang 3D. Pada ranah 3D inilah para arsitek, urban desainer, perencana kota bekerja dan sayangnya sering lupa bahwa ada dimensi lain diluar ruang yang secara tiga dimensi terukur.

Lalu bagaimana cara Nge-PAP? Topik diusulkan oleh satu, dua atau lebih kolaborator, yang sebelum acara membuat diskusi-diskusi kecil. Topiknya apa? Apapun tentang konsep ruang yang sedang ingin dipelajari oleh para kolaborator. Kolaborator mengundang pembicara, yang disebut pena. Tentu saja kolaborator bisa menjadi pena. Yang pasti kolaborator akan menjadi pengantar, yang salah satu fungsinya memoderasi forum. Para pena diusahakan selalu berasal dari berbagai disiplin ilmu/profesi. Mengapa? Melalui interaksi inilah, kita bisa belajar beragamnya konsep ruang.

Nge-PAP membosankan dong? Nggak juga, karena Nge-PAP berarti membicarakan hal-hal yang abstrak sekaligus konkret. Nge-PAP dimulai dengan membicarakan konsep ruang sosial dan ditutup dengan contoh ruang kota di sekitar kita. Mungkin tetap dianggap serius? Kalau dianggap begitu, kita bisa datang dengan kostum, misalnya kostum 80’s. Setelah Nge-PAP, kita bisa nge-POP dan atau nge-PUB. Kan interaksi kita tidak berhenti disana. Sampai jumpa! Tunggu poster Nge-PAP edisi pertama ya.

Oh ya, PAP sudah pernah dipresentasikan di sini. Berikut adalah materi presentasinya. Eh, bisa nggak diakses link-nya? Maklum gagap wordpress.

-Prathiwi-

Advertisements